Keberadaan bahasa dan sastra di tengah masyarakat dapat secara nyata ditemui. Masyarakat yang komunal menggunakan bahasa dalam berinteraksi dan sastra sebagai luapan ekspresif dan cerminan jiwa. Berbicara mengenai bahasa sebagai ilmu yang menurut sebagian orang merupakan disiplin ilmu yang rumit dan belum memiliki kejelasan mengenai asal usulnya. Persoalan ini pada kemudian mulai dikesampingkan dengan mengubah konsep pengembangan bahasa menjadi interdisipliner, meskipun demikian pencarian mengenai asal-usul bahasa masih menjadi bahasan yang menarik untuk diteliti.

Keberagaman bahasa dewasa ini merupakan perkembangan yang tidak pernah berhenti dari masa sebelumnya, sejak manusia pertama mengenal bahasa. Islam sebagai agama memberikan sebuah tanda mengenai asal-usul bahasa, pada Al-Quran disebutkan bahwa Allah mengajarkan Adam semua nama-nama (benda) pada Al-Baqarah ayat 31. Dalam hal ini, persoalan pengenai asal-usul cukup menenangkan, bahwa pada dasarnya bagi umat beragama bahasa berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, jika tidak meletakan persoalan ini pada pijakan agama, mungkin pencarian mengenai asal-usul bahasa akan terus dilakukan tanpa menemukan bukti kongkret.

Ribuan tahun kemudian bahasa menjadi semakin kompleks, terdapat ribuan bahasa yang digunakan oleh jutaan kelompok masyarakat. Hal ini beriringan dengan 12 hakikat bahasa yang secara detail dijelaskan oleh Chaer dalam Linguistik Umum. Bahasa merupakan sistem, berwujud lambing, berupa bunyi, bersifat arbitrer, bermakna, bersifat konvensional, bersifat unik, universal, produktif, bervariasi, dinamis, dan manusiawi. Pada dua belas hakikat bahasa ini hakikat paling menarik adalah mengenai bahasa itu bersifat manusiawi, artinya dalam hal ini para ilmuwan linguistik memberi Batasan pada bahasa, yaitu manusiawi. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa jika bukan berasal dari manusia maka bukan bahasa, bahasa kucing tidak dapat dikatakan sebagai bahasa, atau bahasa-bahasa yang tidak bersifat manusiawi. Batasan-batasan ini dibuat agar bahasa dapat diteliti secara benar dan lurus.

Penelitian-penelitian tentang bahasa dapat menambah kekayaan intelektual bagi bahasa dan interdisipliner bahasa membawa manusia kepada peradaban yang semakin tinggi dari zaman ke zaman. Hal ini dapat dibuktikan dengan berkembangnya sastra sebagai luapan ekpresif manusia. Sastra didefinisikan sebagai tulisan secara umum, akan tetapi bagaimana dengan sastra lisan? Pengaruh kebudayaan atau boleh disebut sebagai jiwa kebudayaan membawa cakrawala masyarakat lebih terbuka. Kelahiran-kelahiran dari pemikiran-pemikiran yang meluap merupakan bagian paling menarik dari sastra entah itu sastra maupun sastra lisan. Sastra, lama-kelamaan menjadi bukti sejarah karena membawa jiwa zaman, dari segi kebahasaan maupun substansi sastra. Kebudayaan tidak dapat diturunkan tanpa sastra sebagai perantara.

 

 

Catatan: 

Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya pada laman maknanews.com

Pembelajaran Abad ke-21
I adapted this from an original video found here: http://youtu.be/OTIBDR4Dn2g. The original presentation was created as a summary of the ASB Unplugged Conference in Mumbai, India 2010. I wanted to add more multimedia and make it more visual as well as adjust a couple of the ideas.
Pembelajaran Abad ke-21

00:09:28
Views: 738796
Pembelajaran Abad ke-21

Youtube Smama

00:31:06
Views: 111
Youtube Smama

Youtube Smama

00:24:02
Views: 105
Youtube Smama

Youtube Smama

00:01:26
Views: 32
Youtube Smama

Youtube Smama

00:05:13
Views: 85
Youtube Smama

GALERI VIDEO SMAMA

 

 

SMAMA
Tayang Ulang Jakarta Osoji Club. Mohon ijin kepada JOC, Jakarta Osoji Club. Video ini sangat menginspirasi kami, khususnya siwa kami SMAN 1 Martapura. Kami mengunduhnya dan sering menayangkannya kepada siswa kami untuk motivasi dan inspirasi. Sebenarnya kami mencoba mencari tayangan/video ini di youtube, tetapi tidak menemukannya lagi, jadi kami mohon
SMAMA

00:19:51
Views: 205
SMAMA

SMAMA

00:05:39
Views: 819
SMAMA

SMAMA

00:11:59
Views: 6760
SMAMA

SMAMA

00:05:00
Views: 2145
SMAMA

 

Membimbing